CORONA, GURU PENGGERAK DAN MERDEKA BELAJAR

Posted on

 993 total views,  2 views today

Oleh : Anas Ponijan, M.Pd

Memasuki awal tahun 2020 ini dunia di gemparkan dengan sebuah makhluk micro yang bernama Corona. Dimulai dari kota Wuhan di cina virus ini merebak ke seluruh dunia dengan begitu cepatnya. Awal bulan maret ini virus corona tipe C19 mulai menyasar Indonesia dengan di umumkanya secara resmi oleh Presiden Jokowi tanggal 2 Maret 2020 langsung dari Istana Negara jika ada 2 warga depok yang positif Corona.

Penyebaran Corona yang demikian masif sampai mengintervensi dunia pendidikan di Indonesia. Di awali dari Pemprov DKI Jakarta yang meliburkan seluruh kegiatan akademik dan non akademik di sekolah selama 2 pekan mulai 16-28 Maret 2020 diganti home learning dengan moda daring/online.  Kebijakan ini akhirnya di ikuti oleh kepala daerah lain seperti Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan bahkan banyak kepala Daerah di luar Jawa juga ikut meliburkan siswanya guna memutus rantai penyebaran virus corona.

Kebijakan  pendidikan di Indonesia ini, muncullah ide ide kreatif dari sekolah-sekolah untuk mengadakan workshop pembelajaran jarak jauh atau pembelajaran online. Dari sekolah muncul guru-guru penggerak dengan jumlah sedikit yang selama ini sudah terbiasa melakukan pembelajaran online menjadi tutor buat guru-guru lainnya. Dampaknya, secara masif pembelajaran online bergerak menyebar ke seluruh Indonesia melebihi masifnya virus corona. Kalau sebelum viralnya virus ini portal-portal pembelajaran online seperti rumah belajar kemendikbud, google classroom, edmodo, quiziz,  ruang guru, quiper, dsb masih sepi pengunjung, maka sekarang bisa meningkat dengan pesat. Hal ini dilakukan oleh guru maupun siswa yang ramai-ramai memburu portal pembelajaran online.

Berawal dari situasi ini maka narasi mas menteri episode pertama Guru Penggerak dan merdeka belajar akan semakin cepat terakselerasi. Guru bisa lebih merdeka menyiapkan dan melaksanakan pembelajaran, sedangkan siswa bisa lebih merdeka belajar dimana saja, kapan saja, kepada siapa saja sesuai dengan bakat minat dan kemampuanya. Disaat situasi penyebaran corona yang masif bahkan menurut Badan Nasional  Penanggulangan Bencana (BNPB) yang tertuang dalam surat keputusan no 13.A tahun 2020 tertulis masa perpanjangan darurat bencana 91 hari terhitung dari tanggal 29 Februari sampai 29 Mei 2020, maka konsederannya buat pendidikan kita bisa saja mas menteri tidak hanya menunda Ujian Nasional tahun 2020 tapi malah membatalkannya. Kalau ini terjadi maka Peniadaan UN juga terakselerasi. Bahkan di era disrupsi ini yang sebelumnya dunia tranportasi dan ritel sudah banyak tergantikan dengan moda online maka sebentar lagi dunia pendidikan bisa jadi akan berevolusi membatasi ruang kelas dan guru. Kecuali guru guru penggerak yang siap berubah dengan revolusi Industri 4.0 dan civil society 5.0.

Baca Juga :  “Covid 19” Integrasi dalam Pembelajaran Matematika

Di akhir tulisan ini penulis ingin mengingatkan pada rekan rekan guru semua:

  1. Selalu ada hikmah di   balik musibah jika kita sikapi secara positif.
  2. Teknologi tidak akan menggantikan guru, tapi guru yang tidak mau berubah pasti akan tergantikan.
  3. pesan dari Tri murti gontor: ” Lambat tertinggal, malas terlindas, berhenti mati”

Selamat menikmati Merdeka Belajar sebagai guru Penggerak di situasi yang tidak pasti ini.

Bekasi, 18 Maret 2020

Penulis   :    Anas Ponijan, M.Pd. (Guru SMA PB Sudirman Bekasi)
Editor    :     Tim Pojok Cerdas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *