BEMPA : Sebuah Kearifan Lokal Masyarakat Bugis di Tengah Wabah Covid 19

Posted on

 1,046 total views,  8 views today

Oleh:  Jabariah Abbas

Sebuah benda digunakan sebagai tempat penampungan air yang masyarakat suku Bugis menyebutnya “bempa“, di masyarakat suku Makassar menamakannya “gumbang”, masyarakat suku Mandar menyebut “gusi”, sedangkan masyarakat suku Toraja menamakannya “busso”.  Walaupun berbeda namanya pada masing-masing etnis masyarakat di Sulawesi Selatan, namun bentuk dan fungsinya sama. Di zaman kecilku benda ini sangat mudah ditemukan. Oleh ibu dan kebanyakan warga di kampung biasa menggunakannya untuk menyimpan persediaan air untuk keperluan minum, masak, mandi, dan juga untuk keperluan cuci mencuci lainnya. Dalam artikel ini saya menggunakan satu istilah yaitu bempa, karena pengalaman saya yang hidup pada masyarakat etnis Bugis.

Benda yang semakna tempayang ini memiliki bentuk selinder serupa tabung dengan mulut lebih kecil. Awalnya bempa terbuat dari batu padas atau batu kali yang dipahat yang tentu pembuatannya memakan waktu yang lama. Seiring perkembangan bempa yang banyak digunakan terbuat dari tanah liat. Ukuran bempa untuk digunakan dalam rumah tangga memiliki tinggi rata-rata antara 50 – 80 cm dengan diameter mulut bempa antara 30 – 50 cm.

Gambar Bempa

Bempa biasa diletakkan berjejer pada bagian belakang dapur yang dibedakan ada sebagai tempat air minum dan keperluan masak, ada juga khusus untuk cuci-mencuci. Selain di bagian dapur, bempa diletakkan di bagian depan dekat tangga naik rumah. Rumah tradisional masyarakat Bugis berupa rumah panggung dilengkapi tangga. Biasanya sebelum naik ke rumah, orang-orang Bugis terbiasa membersihkan kaki dan tangan terlebih dahulu. Filosofinya adalah penghuni rumah membersihkan diri (minimal tangan dan kaki) jika dari bepergian sebelum memasuki rumah. Begitupun bagi tamu atau keluarga yang berkunjung sudah memahami hal tersebut. Hal ini sebagai upaya antisipasi terhadap berbagai kotoran yang bisa dibawa masuk ke dalam rumah.

Baca Juga :  Karya Tulis Ilmiah

Mengenang saat masih kecil, untuk tetap menjamin tersedianya air di dalam bempa ini, kami diberi tugas rutin pagi dan sore oleh orang tua untuk mengisinya. Airnya kami angkut dari sumur galian ataupun sumber mata air dan hal ini membuat otot-otot lengan dan tungkai kami menjadi kuat. Cara lain orang tua membentuk fisik anaknya sehat. Saya sendiri senang membersihkan diri atau bahkan meminum air yang tersimpan di dalam bempa ini. Airnya terasa sejuk memiliki hawa dingin yang unik, lebih menyegarkan menurutku di banding air yang dari lemari es seperti sekarang ini.

Kebiasaan masyarakat Bugis menyiapkan bempa di bagian depan dekat tangga sebagai wadah penampung air untuk mencuci tangan dan kaki sebelum masuk rumah, sekarang harus dilakukan oleh setiap orang sebagai upaya menjaga kebersihan dan menghindari penularan wabah virus corona. Kearifan lokal ini ternyata masih sangat relevan terutama dalam keadaan pandemi SARS Covid 2 atau lebih dikenal Covid 19. Hal ini merupakan warisan yang sepantasnya dilestarikan dan cukup membuktikan bahwa orang-orang Bugis dahulu telah terbiasa menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Walaupun mungkin cara membersihkan tangannya belum memenuhi 7 langkah yang direkomendasikan WHO.

Bempa dan Wastafel

Menurut WHO, mencuci tangan agar bersih menghabiskan waktu sekitar 20 detik, sebagai upaya pencegahan infeksi virus, kuman, dan bakteri. Tujuh langkah mencuci tangan yang direkomendasikan WHO adalah:
1. Basahi tangan dan tuangkan atau oleskan produk sabun di telapan tangan.
2. Tangkupkan kedua telapak tangan dan gosokkan produk sabun yang telah dituangkan.
3. Letakkan telapak tangan kanan di atas punggung tangan kiri dengan jari yang terjalin dan ulangi untuk sebaliknya.
4. Letakkan telapak tangan kanan ke telapak tangan kiri dengan jari saling terkait.
5. Tangan kanan dan kiri saling menggenggam dan jari bertautan agar sabun mengenai kuku dan pangkal jari.
6. Gosok ibu jari kiri dengan menggunakan tangan kanan dan sebaliknya.
7. Gosokkan jari-jari tangan kanan yang tergenggam di telapak tangan kiri dan sebaliknya.

Baca Juga :  Masih Berkeluh Kesah Karena Corona ?

Kini kebiasaan mencuci tangan menjadi hal yang harus dilakukan agar tidak terpapar atau menularkan mikroba patogen terutama Corona. Tak susah untuk menemukan tempat cuci tangan, di kantor-kantor pelayanan publik, fasilitas umum, sekolah bahkan di ruas-ruas jalan tertentu banyak disiapkan wastafel ataupun wadah untuk mencuci tangan lengkap dengan cairan dan sabun antiseptiknya.

Sekarang bempa sudah jarang ditemukan, walaupun ada, bentuknya saja yang mirip, fungsinya sudah teralihkan menjadi wadah pajangan bunga imitasi, pot, ataupun dijadikan sebagai ornamen pemanis taman. Menggali kebaikan to riolota (orang dulu) sebagai sebuah kearifan lokal.

Penulis  :    Jabariah Abbas, M.Pd. (Guru SMAN 11 Pinrang)
Editor   :    Tim Pojok Cerdas (SM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *